Kuningan, MI.com — Di kota kecil yang dikenal sebagai Kota Kuda, langkah tidak selalu berderap cepat. Ia sering berjalan perlahan, menapaki tanah dengan ingatan. Kuningan tumbuh seperti napas panjang: tidak terburu-buru, namun menyimpan daya.
Di antara gunung dan ladang, antara ritual dan rutinitas, seni rupa menemukan caranya sendiri untuk hidup—diam-diam, namun berakar. Demikian disampaikan Yusup Oeblet saat membuka Pameran Re-trace di Gedung Graha Wangi Jl. Veteran Kuningan, Sabtu (13/12/2025) petang.
Acara berlangsung apa adanya tanpa dihadiri pejabat ataupun dinas terkait, kecuali sejumlah seniman, Agung M Abul aktivis Tudgam, perupa dari Yogyakarta, Brebes dan Kuningan. Mereka turut menampilkan karyanya antara lain, Ajay, Ellsa Berlanda, Neogreenmonter, Hary Fitriansah, Rian Obet, Nuggira Item (Kuningan), Arif Mujahudin dan Bill Adhakil (Brebes), Gema dan Ungki Prasetio perupa Yogyakarta.
Pameran ini menutup agenda tahun 2025 yang digelar 13-21 Desember 2025. “Re-trace hadir papar Oeblet sebagai sebuah “jeda”.’ ucap Yusuf Oeblet.
Bukan jeda untuk berhenti, melainkan jeda untuk menyadari bahwa setiap langkah seni di kota kecil selalu berangkat dari sesuatu yang telah lebih dulu ada. Dari jejak tapak kaki, dari bekas sentuhan tangan, dari cerita yang diwariskan tanpa arsip tertulis, papar Oeblet seniman dan musisi tabuhan nusantara yang kerap ngamen mancanegara ini.
Baca juga :
- Ini Daftar Capim BAZNAS Kuningan periode 2026–2031: Mulai Petahana hingga Mantan Ketua KPU
- Zakat Fitrah 1447 H di Kabupaten Kuningan Sebesar Rp35 Ribu
- Khutbah Jumat: Membersihkan Diri Sebelum Ramadhan
- Khutbah Jum’at: Lima Persiapan Menyambut Ramadhan
Kata “Re” di sini bukan sekadar awalan. Ia adalah sikap. Re sebagai kembali, merawat, mengulang, menimbang ulang. Re sebagai kesediaan untuk menoleh—bukan dengan nostalgia, tetapi dengan tanggung jawab.
Sementara garis miring (/) adalah ruang sunyi: ruang perenungan, ruang ragu, ruang di mana seni bekerja paling jujur.
Di dalam jeda itulah trace hadir: jejak yang tidak selalu jelas bentuknya, namun nyata keberadaannya. Jejak itu bisa berupa goresan kasar, lapisan warna yang ditimbun, tubuh yang digambar ulang, atau material sederhana yang menyimpan sejarah panjang. Dalam karya-karya yang hadir, jejak tidak tampil sebagai penanda masa lalu semata, melainkan sebagai energi yang masih bergerak.
Geliat seni rupa di Kuningan tidak tumbuh dari hiruk-pikuk pusat. Ia tumbuh dari kedekatan: dengan alam, dengan komunitas, dengan keseharian. Di kota kecil, seni tidak punya kemewahan jarak—ia bersentuhan langsung dengan kehidupan. Karena itu, setiap karya adalah dialog: dengan tanah, dengan memori, dengan nilai-nilai yang diwariskan secara lisan dan gestural.
Re/trace menjadi penting karena ia mengafirmasi bahwa seni rupa Kuningan tidak perlu meniru bahasa besar untuk menjadi bermakna. Justru kekuatannya terletak pada kemampuan membaca ulang yang lokal, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa visual yang terbuka dan kontemporer. Di sinilah potensi genius itu muncul: bukan dari kebaruan yang dipaksakan, tetapi dari kesetiaan pada jejak.
Baca juga : Absen 11 tahun, Pasar Seni ITB 2025 Kembali Digelar
Seni rupa di kota kecil seperti Kuningan memiliki peluang unik untuk melangkah dengan cara berbeda: Menjadikan ingatan kolektifsebagai sumber utama penciptaan; Membaca ruang dan alam sebagai arsip hidup; Menganggap proses sebagai karya, bukan sekadar hasil; Membangun ekosistem seni berbasis pertemuan, bukan kompetisi, dan; Menghidupkan dialog lintas generasi sebagai metode artistik.
Pameran ini bukan titik akhir, melainkan “tanda”sebuah penanda bahwa seni rupa di Kuningan sedang belajar menyebut namanya sendiri. Dalam Re/trace, para perupa tidak hanya memamerkan karya, tetapi sedang menyusun ulang posisi: sebagai penjejak, bukan peniru; sebagai pembaca ruang, bukan penguasa wacana.
Kita diajak memahami bahwa kota kecil bukan keterbatasan, melainkan ruang kemungkinan. Di sini, seni bisa tumbuh sebagai praktik perawatan: merawat ingatan, merawat hubungan, merawat nilai. Setiap karya menjadi jejak kecil yang, jika dirawat bersama, dapat membentuk peta kultural yang kuat dan berkelanjutan.
Maka Re/trace adalah undangan untuk tinggal sejenak di antara “Re” dan “trace”—di ruang jeda yang jarang kita hargai. Di sanalah seni rupa Kuningan menemukan nadinya: perlahan, reflektif, dan berakar. (H. Wawan Jr)**
