Jombang, MI.com — Babak baru dalam dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU. Hal Setelah melalui serangkaian proses yang panjang, islah (rekonsiliasi) antara Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, dan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, akhirnya tercapai dalam sebuah pertemuan bersejarah yang diprakarsai oleh para masyayikh dan mustasyar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (25/12/2025).
Pertemuan yang berlangsung khidmat ini berhasil mempertemukan kedua pucuk pimpinan PBNU tersebut dalam satu meja, mengakhiri sengketa yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Sebagai jalan keluar terbaik, kedua belah pihak menyepakati untuk menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama secara bersama-sama.
“Alhamdulillah, hari ini kita semua menjadi saksi sebuah peristiwa yang menyejukkan. Islah telah tercapai, dan kami bersama Rais Aam telah menyepakati bahwa solusi terbaik untuk jam’iyah adalah melalui Muktamar bersama,” ujar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, usai pertemuan dilansir NU.online.
Baca juga :
- Diskatan Kuningan: Semprot Hama Padi Menggunakan Drone Lebih Murah dan Cepat
- Ini Daftar Capim BAZNAS Kuningan periode 2026–2031: Mulai Petahana hingga Mantan Ketua KPU
- Zakat Fitrah 1447 H di Kabupaten Kuningan Sebesar Rp35 Ribu
- Khutbah Jumat: Membersihkan Diri Sebelum Ramadhan
Musyawarah kali ini merupakan kelanjutan dari Musyawarah Kubro yang juga digelar di tempat yang sama beberapa hari lalu. Para masyayikh menilai bahwa sengketa yang dipicu oleh keputusan pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam—yang dinilai tidak sah dan tidak sesuai AD/ART NU—harus diselesaikan melalui jalan islah dan Muktamar yang legitimate dengan melibatkan kedua belah pihak.
Kesepakatan untuk menggelar Muktamar bersama ini dicapai setelah melalui proses negosiasi dan perdebatan yang alot, namun tetap dalam semangat persaudaraan (ukhuwah nahdliyah).
Kehadiran sejumlah tokoh sentral NU menjadi penegas pentingnya pertemuan ini. Di antaranya adalah Wakil Presiden RI (2019-2024) yang juga Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, yang pada pertemuan sebelumnya hanya dapat hadir melalui Zoom.
Turut hadir pula para masyayikh dan kiai sepuh lainnya yang menjadi penengah dalam proses dialog. Dengan kesepakatan ini, silaturahim di Lirboyo hari ini secara resmi mengakhiri konflik internal PBNU.
Kepemimpinan PBNU hingga Muktamar mendatang akan tetap berjalan di bawah KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, akan segera dibentuk panitia bersama untuk mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. “Kesepakatan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan pembentukan panitia Muktamar. Kita akan bersama-sama menyukseskan forum tertinggi jam’iyah ini dengan damai dan bermartabat,” pungkas Gus Yahya.
KH. Ma’ruf Amin ikut menghadiri Rapat Konsultasi Syuriah dengan Musytasar PBNU di Pontren Lirboyo, Kediri tersebut. “Alhamdulillah, biidznillah, pertemuan berjalan dengan lancar dan menghasilkan kesepakatan yang baik dengan berpegang kepada ukhuwah nahdliyyah.” Ucap dia dalam akun facebook KH Ma’ruf Amin.
Bahwa Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Tsaquf dan Rais Aam, KH. Miftahul Akhyar dengan bimbingan para masyayikh sepuh NU dan mustasyar bersetuju untuk mengadakan muktamar bersama yang legitimate sesegera mungkin.
Untuk waktu, tempat, dan teknis pelaksanaan Muktamar ke-35 akan diputuskan bersama oleh Ketua Umum dan Rais Am melalui kepanitiaan yang dibentuk bersama.
Artinya, tidak ada lagi konflik dan perbedaan pandangan. Semua sudah selesai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, pertolongan, dan petunjuk-Nya kepada Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Demikian dengan KH. Cholil Nafis, ia mengucapkan Walhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Semoga kebaikan, berkah dan rahmat Allah SWT. Selalu tercurah kepada kita semua, warga nahdliyin. Sebuah ikhtiar yang membuahkan hasil. Semoga Allah menuntun kita semua dalam kebersamaan dan persatuan. (Tan)**
