CIANJUR, MI.com — James Riady, tiba di situs Megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat belum lama ini dilansir dari akun facebook: layung jagat, Rabu (24/12/2025).
Kehadiran James Riady di Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, bukan kunjungan biasa. Datang menggunakan helikopter dan menembus area-area terjal yang jarang disentuh wisatawan, langkahnya segera mengundang perhatian. Bukan semata karena ia tokoh berpengaruh, melainkan karena konteks kehadirannya di salah satu situs purbakala paling kontroversial di Nusantara.
Ia tak berhenti di teras utama yang kerap jadi latar foto. James Riady justru menyusuri lereng-lereng yang masih tertutup vegetasi, mendekati bagian situs yang menyimpan lebih banyak tanda tanya daripada jawaban. Di sana, ia berdialog panjang dengan tim kajian Gunung Padang, bukan sekadar berbasa-basi, melainkan terlibat dalam diskusi serius, menelaah dokumentasi riset, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis.
Peneliti Ali Akbar, yang membagikan pengalamannya lewat media sosial, menggambarkan sosok James Riady sebagai pendengar yang cermat dan pengamat yang detail. Sikap ini dinilai berbeda dari kunjungan seremonial yang sering terjadi di situs-situs bersejarah, yaitu datang, berfoto, lalu pergi.
Baca juga :
- Ini Daftar Capim BAZNAS Kuningan periode 2026–2031: Mulai Petahana hingga Mantan Ketua KPU
- Zakat Fitrah 1447 H di Kabupaten Kuningan Sebesar Rp35 Ribu
- Khutbah Jumat: Membersihkan Diri Sebelum Ramadhan
- Khutbah Jum’at: Lima Persiapan Menyambut Ramadhan
Gunung Padang sendiri sejak lama berdiri di persimpangan perdebatan ilmiah. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa situs ini menyimpan struktur berlapis yang usianya jauh melampaui peradaban yang selama ini dikenal. Di sisi lain, arkeolog arus utama menegaskan pentingnya kehati-hatian, metodologi ketat, dan verifikasi berlapis agar sains tidak tergelincir menjadi sensasi.
Dalam konteks itu, kemunculan figur seperti James Riady memantik dua rasa sekaligus, yaitu harapan dan kewaspadaan. Sebagai anggota Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya di bawah kepemimpinan Hashim Djojohadikusumo, ia memiliki pengaruh moral dan jejaring strategis, meski bukan pemegang otoritas teknis riset arkeologi.
Komitmennya yang disebut-sebut siap mendukung kajian lanjutan dan pemugaran Gunung Padang membuka peluang bagi riset multidisipliner yang lebih serius dan berkesinambungan. Namun, suara kehati-hatian pun mengemuka: dukungan tokoh berpengaruh harus tetap berjalan dalam koridor etika ilmiah, tanpa tekanan hasil instan, tanpa dorongan narasi besar yang belum matang.
Selama ini, Gunung Padang kerap ditarik ke dua kutub ekstrem, antara klaim spektakuler yang mengejar pengakuan global dan sikap akademik yang terlampau defensif. Di antara tarik-menarik itu, etika pengelolaan warisan budaya sering kali tercecer.
Baca juga :
Praktisi budaya Dar Edi Yoga mengingatkan, Gunung Padang bukan sekadar susunan batu purba. Ia adalah ruang peradaban yang menuntut sikap batin tertentu. “Tidak semua orang dipanggil ke Gunung Padang,” ujarnya, sebuah metafora tentang kesiapan kesadaran dan tanggung jawab dalam menyentuh masa lalu.
Pandangan ini menegaskan satu hal: situs purbakala tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek wisata, komoditas ekonomi, atau medan adu klaim intelektual. Ia adalah amanah sejarah yang menuntut kesabaran, kerendahan hati, serta dialog lintas disiplin, yaitu arkeologi, geologi, antropologi, hingga kearifan lokal.
Pada akhirnya, Gunung Padang menjadi cermin bagi bangsa ini sendiri. Apakah masa lalu akan didekati dengan ambisi untuk menaklukkannya, atau dengan kesadaran bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas?
Kunjungan James Riady, apa pun tafsir yang menyertainya, setidaknya menghidupkan kembali satu pertanyaan mendasar, yaitu sejauh mana Indonesia siap merawat misteri sejarahnya dengan tanggung jawa, tanpa larut dalam sensasi, namun juga tanpa menutup diri dari kemungkinan-kemungkinan baru yang ditawarkan ilmu pengetahuan. (Tan)*
