Kuningan, MI.com — Perupa dan pegiat seni visual Kang Asep Dheny menghadirkan karya terbarunya bertajuk “Pagelaran Wayang Ceplek Republik Sandal Jepit” sebuah pagelaran seni pertunjukan yang memadukan seni rupa, wayang kontemporer, dan musik eksperimental.
Pagelaran ini sebagai pembuka pameran Milestone by Teater Sado Kuningan, dan menjadi bagian dari rangkaian perayaan proses kreatif serta perjalanan artistik komunitas Teater Sado, di Gedung Kesenian Raksawacana Jl. Veteran Kuningan, Minggu (18/01/2026).
“Pagelaran wayang Ceplek, papar Asep Dheny, mengangkat berbagai isu sosial dan lingkungan lokal melalui medium wayang ceplek, yaitu wayang datar sederhana yang diciptakan dari bahan triplek”.
“Seluruh tokoh dalam pertunjukan ini hadir dalam bentuk sandal jepit, sebagai simbol keseharian, kerakyatan, serta metafora atas relasi manusia dengan ruang hidup dan kekuasaan,” ungkap perupa yang dikenal sebagai Presiden Sandal Jepit ini.
Baca juga :
- Kejari Kuningan Musnahkan Ribuan Barbuk dari 39 Perkara Sudah Inkrah
- Final Piala Presiden 2026: Persib Bandung Vs Persebaya Surabaya
- Evan dan Mary Andini Terpilih Jadi Paskibraka Tingkat Jawa Barat
- Perkuat Legalitas Lembaga Keagamaan: KUA Cibingbin Terbitkan IJOP MT Al Amin
Tokoh-tokoh wayang tersebut merupakan karakter baru yang diciptakan khusus untuk pagelaran ini, lahir dari pembacaan artistik Kang Asep Dheny terhadap realitas sosial hari ini. Wayang ceplek diposisikan bukan sebagai tontonan pakem, melainkan sebagai media tafsir dan refleksi yang menyampaikan kegelisahan secara simbolik dan subtil.
Pagelaran ini berkolaborasi dengan Kang Udinsakasada, seniman musik eksperimental, yang menghadirkan komposisi bunyi dan lanskap suara non-konvensional. Elemen bunyi dalam pertunjukan ini berfungsi sebagai narasi paralel, berdialog langsung dengan visual wayang dan alur pertunjukan, sehingga membentuk pengalaman artistik yang utuh dan imersif.
Melalui pagelaran pembuka pameran Milestone ini, Asep Dheny bersama Udinsakasada berharap dapat membuka percakapan kultural yang lebih luas, sekaligus memperkaya praktik seni pertunjukan kontemporer berbasis isu lokal dengan pendekatan eksperimental. (H.Wawan Jr)**
