Jalaksana, MI.com — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Ustad Cecep Saeful Mahbub, menekankan pentingnya menjaga kejernihan hati di tengah kompleksitas tantangan zaman modern.
Hal itu disampaikan saat melaksanakan monitoring dan bimbingan penyuluhan (bimluh) di Majelis Taklim Al-Kautsar, Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Sabtu (10/1/2026).
“Sayyidina Abu Bakar RA mengingatkan kita bahwa kegelapan hati bersumber dari lima hal, dan masing-masing memiliki penerang yang harus diupayakan oleh setiap Muslim. Tantangan zaman saat ini menuntut kita untuk senantiasa menjaga akhlak dengan memperbanyak amal saleh serta memperkuat keimanan agar hati tidak tertutup kegelapan,” ujar Cecep.
Ustad Cecep mengupas tuntas pesan mendalam dari khalifah pertama Islam mengenai lima perkara kegelapan: dosa, kebodohan, kelalaian, hawa nafsu, dan cinta dunia yang berlebihan.
Baca juga :
- Ini Daftar Capim BAZNAS Kuningan periode 2026–2031: Mulai Petahana hingga Mantan Ketua KPU
- Zakat Fitrah 1447 H di Kabupaten Kuningan Sebesar Rp35 Ribu
- Khutbah Jumat: Membersihkan Diri Sebelum Ramadhan
- Khutbah Jum’at: Lima Persiapan Menyambut Ramadhan
Sebagai penangkal, KUA Jalaksana mengajak umat untuk mengamalkan lima penerangnya, yakni taubat yang sungguh-sungguh, ilmu yang bermanfaat, dzikir kepada Allah, pengendalian diri, serta sikap zuhud.
Menurutnya, peran penyuluh KUA adalah memastikan nilai-nilai klasik tersebut tetap relevan dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari guna membangun karakter umat yang berakhlakul karimah.
Kegiatan ini bukan sekadar ceramah rutin, melainkan bagian dari fungsi monitoring KUA Jalaksana untuk mengevaluasi efektivitas majelis taklim sebagai pusat pembinaan umat di tingkat desa. Melalui bimbingan yang berkelanjutan, KUA berupaya memastikan Majelis Taklim Al-Kautsar menjadi wadah edukasi yang sistematis dan mencerahkan bagi warga Desa Manislor.
“Monitoring ini menjadi sarana evaluasi dan penguatan peran majelis taklim. Kami ingin jamaah semakin termotivasi untuk mengamalkan nilai-nilai Islam secara konsisten,” imbuh Ustad Cecep.
KUA Jalaksana melalui para penyuluh agamanya menegaskan komitmen untuk terus hadir secara proaktif di tengah masyarakat. Kehadiran KUA diharapkan tidak hanya sebagai pemberi informasi keagamaan, tetapi juga sebagai motivator yang mampu memberikan kesejukan dan arah bagi kehidupan beragama yang lebih baik.
Antusiasme jamaah yang tinggi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan langsung oleh KUA sangat dibutuhkan untuk menjaga soliditas spiritual dan sosial di tingkat akar rumput. (Kontributor: Juju Maelasari)*
