Bandung, MI.com — Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menegaskan pentingnya konsistensi dan kolaborasi antar daerah dalam menjaga tren penurunan stunting.
Penegasan itu disampaikan Erwan Setiawan dihadapan peserta Rapat Evaluasi Penanganan Stunting Tingkat Provinsi Jabar, dihadiri Ketua Bappeda, Kepala Dinas Kesehatan Jabar dr Raden Vini Adiani Dewi beserta jajaran serta para wakil kepala daerah di Gedung Sate Kota Bandung, Rabu (8/04/2026).
“Kita harus terus fokus pada upaya pencegahan sejak dini dan memperkuat sinergi agar target penurunan stunting dapat tercapai secara optimal,” tegas Erwan.
Harapan senada disampaikan Kepala Bappeda Jabar Dedi Mulyadi. Dedi Mulyadi mengatakan, penguatan pembiayaan kesehatan yang berimbang dengan mendorong upaya promotif dan preventif, sehingga tidak hanya berfokus pada layanan kuratif.
Baca juga :
- Menbud Fadli Zon: Tanpa Ada Linggarjati, Tidak Ada NKRI
- Wagub Jabar Erwan: Konsistensi dan Kolaborasi Antar Daerah Tren Penurunan Stunting
- Sekda Kuningan Sebut Nominal TGR Disdikbud Hanya Rp3,2 Miliar
- Harga Proyek Laptop 21 SMPN di Kuningan Jadi Temuan BPK, Ini Daftarnya!
“Hal ini menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan di Jawa Barat.” ucap dia.
Kehadiran dan partisipasi aktif Kepala daerah yang diwakili para Wakil Bupati atau Wakil Wali Kota dalam dalam rapat evaluasi ini, menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung program percepatan penurunan stunting sebagai bagian dari upaya mewujudkan generasi sehat dan berkualitas menuju Jawa Barat Istimewa dan Indonesia Emas 2045
Sementara itu, Wakil bupati Kuningan Tuti Andriani menyampaikan berbagai upaya penanganan stunting, sekaligus menegaskan komitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan.

Wabup Kuningan Tuti Andriani menghadiri rapat evaluasi penanganan stunting di Gedung Sate Kota Bandung, Rabu (8/4/2026)
Ia menjelaskan dinamika data stunting menjadi bagian dari proses evaluasi yang terus ditindaklanjuti melalui intervensi di lapangan. “Kami terus melakukan upaya perbaikan, termasuk penguatan di tingkat lapangan agar intervensi yang dilakukan semakin tepat sasaran,” ungkap Tuti.
Salah satu fokus yang disampaikan adalah optimalisasi peran dapur SPPG, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan remaja putri.
“Kami mendorong agar pemberian asupan gizi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok, sehingga manfaatnya lebih optimal,” imbuh dia.
Optimalisasi pemanfaatan fasilitas kesehatan serta peningkatan layanan spesialis dapat menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih cepat dan efektif. (H. Wawan Jr)
