Oleh : Qonita – detikHikmah

 Jakarta, MI.com  — Malam Nisfu Syaban menjadi salah satu periode spiritual yang dinantikan umat Islam karena diyakini menjadi bulan yang penuh keberkahan. Posisi bulan Syaban yang berada di antara Rajab dan Ramadan menjadikannya fase penting untuk persiapan sebelum memasuki bulan suci.

Dalam penanggalan Hijriah, Malam Nisfu Syaban diperingati pada malam tanggal 15 Syaban, yang dimulai sejak Magrib tanggal 14 hingga terbit fajar keesokan harinya. Penentuan tanggal Nisfu Syaban 1447 Hijriah dalam kalender Masehi menjadi perhatian umat Islam sebagai penanda kesiapan menyambut Ramadan.

Apa Itu Nisfu Syaban?

Syaban secara bahasa berasal dari kata yang bermakna percabangan atau pemisahan karena letaknya di antara bulan Rajab dan Ramadan. Dalam bahasa Arab, bentuk jamaknya dikenal sebagai Syabanat atau Sya’abin.

Menurut ahli bahasa Abu Abbas Ahmad bin Yahya Tsalab, bulan ini dinamakan Syaban karena berada di antara dua bulan besar, yakni Rajab dan Ramadan. Letak tersebut menjadikan Syaban sebagai masa transisi menuju ibadah Ramadan.

Secara historis, bulan Syaban telah dikenal sejak sekitar tahun 412 Masehi pada masa Kilab bin Murrah, leluhur Nabi Muhammad SAW. Penamaan ini dilakukan jauh sebelum Islam datang.

Baca juga :

Pada masa Jahiliyah, masyarakat Arab biasa berpencar ke berbagai wilayah saat bulan Syaban untuk mencari air dan kebutuhan hidup. Sebagian riwayat juga menyebutkan mereka kembali melakukan penyerangan setelah bulan Rajab yang disucikan.

Pada malam ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan saleh, karena menjadi kesempatan untuk menggapai ridho dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keistimewaan Nisfu Syaban

Bulan ini dikenal sebagai waktu diangkatnya amal perbuatan manusia kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bahkan memperbanyak puasa di bulan ini agar amalnya diangkat dalam keadaan ibadah.

Di pertengahan bulan Syaban terdapat malam istimewa yang dikenal sebagai Malam Nisfu Syaban. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Allah SWT melimpahkan ampunan-Nya secara luas pada malam tersebut.

Disamping itu, Nisfu Syaban dikenal sebagai bulan penuh ampunan, kecuali bagi mereka yang masih menyimpan sifat iri dan dengki. Hal ini menjadi pengingat penting untuk membersihkan hati sebelum Ramadan.

Berpuasa di bulan Syaban memiliki keutamaan khusus sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Puasa ini menjadi latihan fisik dan spiritual menjelang puasa Ramadan.

Selain itu, perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW juga turun pada bulan Syaban. Momen ini menguatkan kedekatan umat Islam dengan Rasulullah SAW.

Bulan Syaban juga memiliki nilai historis penting karena menjadi waktu perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah. Peristiwa ini menandai ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah SWT.

Amalan Terbaik pada Malam Nisfu Syaban

Umat Islam dianjurkan menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan amalan yang lazim dilakukan pada malam-malam lainnya. Ibadah tersebut dilakukan tanpa mengkhususkan ritual tertentu.

Sholat qiyamul lail menjadi salah satu amalan utama yang dianjurkan karena memiliki keutamaan besar setelah sholat fardhu. Ibadah ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, membaca Al-Qur’an juga dapat dilakukan sebagai bentuk memperbanyak amal saleh di bulan Syaban. Amalan ini dilakukan sebagaimana malam-malam biasa tanpa keyakinan pengkhususan.

Tak hanya itu, berdoa menjadi bagian penting untuk memohon ampunan dan kebaikan hidup. Dalam kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya terdapat doa yang dibaca pada malam Nisfu Syaban, berikut bacaan doanya sebagaimana dinukil dari laman MUI,

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُومِيْنَ أَوْ مُقَتَرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَّاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَافْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفِّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in’ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifin. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fii ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fii ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su’adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fii kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallahu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihi wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.

Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.

Tuhanku, jika Kau mencatat ku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufik untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, serta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Nisfu Syaban sebagai Awal Persiapan Ramadan

Nisfu Syaban menjadi penanda awal untuk memperbaiki pola ibadah menjelang Ramadan. Momentum ini dimanfaatkan untuk melatih konsistensi ibadah dan pengendalian diri.

Persiapan spiritual sejak Nisfu Syaban membuat umat Islam tidak kaget menghadapi intensitas ibadah Ramadan. Dengan demikian, Ramadan dapat dijalani secara lebih optimal.
Makna Nisfu Syaban di Kehidupan Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, dimana manusia sibuk ber, Nisfu Syaban menjadi ruang jeda untuk refleksi diri. Momen ini mengajak umat Islam menyeimbangkan rutinitas duniawi dan kebutuhan spiritual.

Nilai introspeksi dan penguatan niat yang terkandung dalam Nisfu Syaban tetap relevan bagi masyarakat modern. Persiapan mental dan spiritual menjadi kunci menjalani Ramadan dengan lebih bermakna.

Menata Hati Menuju Bulan Suci

Nisfu Syaban menjadi pengingat penting untuk membersihkan hati dan memperbaiki niat sebelum Ramadan tiba. Kesadaran ini diharapkan mendorong umat Islam menjalani ibadah dengan lebih khusyuk dan konsisten.

Dengan persiapan yang lebih matang, Ramadan diharapkan menjadi lebih bermakna. Untuk membantu mempersiapkan ibadah, pembaca dapat mengakses berbagai informasi Ramadan di detikcom sebagai panduan menjalani bulan suci. (detik.com)*

By mediaidentitas0@gmail.com

T. Sukartanu, SH. Wartawan Madya dari Dewan Pers Nomor: 8258-PWI/WDya/DP/X/2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *