GARAWANGI, MI.com — Laporan dari UPTD Puskesmas Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan menyebutkan bahwa berdasarkan data per Bulan Mei 2026, dari 112 anak balita (bawah lima tahun) di Desa Cirukem, terdapat 17 anak yang masuk kategori stunting.
Data tersebut disampaikan dalam acara Rembug Stunting di Gedung Pertemuan Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi, Kamis (2/7/2026). Rembug Stunting yang merupakan program desa melibatkan unsur Kecamatan Garawangi, UPTD Puskesmas dan PLKB.
Penjabat Kepala Desa Cirukem, Momon Sirod, S.IP menyampaikan, bahwa Pemdes Cirukem telah berupaya dengan sekuat tenaga dan biaya untuk menekan angka laju balita stunting. Upaya dilakukan dengan penyuluhan mulai Pra Nikah yaitu calon pengantin (Catin), pemeriksaan kesehatan calon pengantin, bumil dan balita.
Baca juga :
- Ahyana Promosi menjadi Kepala SMPN 2 Subang
- 17 Anak di Desa Cirukem Masuk Kategori Stunting
- Gerai KUNCI BUNDA Solusi Jaga Stabilitas Harga Pangan Kuningan
- KUA Cimahi Pimpin Ikrar Mualaf WNA Asal China, dan Santunan
Kegiatan melibatkan Bidan Desa dan TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) di setiap Posyandu, walaupun dengan upah tidak layak, “Terima kasih kepada ibu-ibu kader pejuang. Hasilnya, Desa Cirukem kini dinyatakan cukup berhasil menekan angka laju stunting, seperti disampaikan oleh Puskesmas Kecamatan Garawangi.” ungkap Momon Siroj.
Apalagi kalau 8 usulan TPK dapat diakomodir dan ada dananya untuk tahun 2027, pekerjaan akan lebih epektif dan efisien. Delapan usulan itu belum adanya pemeriksaan HB dikarenakan alat stik HB belum ada, pasangan Catin tidak mengikuti Bimbingan Pranikah karena KUA jaraknya jauh dari desa, dan Catin tidak melakukan pemeriksaan di Posyandu.
Selain itu, jarak kehamilan yang terlalu dekat, sulit untuk memantau Bumil, anggaran untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kehadiran dan PMT pemulihan masih kurang, kelengkapan kelas Bina Keluarga Balita/Alat Permainan Edukasi (BKB/APE) belum lengkap, serta akses air bersih warga belum memadai.
“Tentunya hal ini dengan melibatkan Dinas terkait dan desa untuk menyediakan alat, serta sosialisasi yang berkelanjutan, karena menyangkut anggaran perlu dirembukan, dari mana sumber dananaya.” pungkas dia. (M. Aman)*
