Kuningan, MI.com — Warga Desa Pamulihan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan memiliki keunikan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dikolaborasikan dengan tradisi Panjang Jimat. Kali ini peringatan maulid nabi dipusatkan di Masjid Jami Baitul Mukhlisin Desa Pamulihan, Jumat (5/9/2025) malam.
Warga dengan kompak memanjatkan doba diiringi shalawat yang dilantunkan oleh para jamaah. Kegiatan dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Kuningan, H. Toni Kusumanto, AP, M.Si., Camat Cipicung Deni Hamdani, SE, Kp, M.Si, Kepala Desa Pamulihan, para ulama dan masyarakat setempat.
Baca juga:
- Bulog dan Pemda Kuningan Sinergi Amankan Serapan Gabah Petani
- Diskatan Kuningan: Semprot Hama Padi Menggunakan Drone Lebih Murah dan Cepat
- Ini Daftar Capim BAZNAS Kuningan periode 2026–2031: Mulai Petahana hingga Mantan Ketua KPU
Arak-arakan hasil bumi, kreativitas dari setiap dusun, dan wajah-wajah penuh syukur mengiringi perjalanan menuju rumah Allah. Sementara tausiyah disampaikan oleh Ustadz K.H Oban Sobani, M.Si menyalakan cahaya iman, sementara ritual Panjang Jimat membuka pintu kenangan leluhur.
Nasi kebuli ditata dalam pring besar warisan masa silam, bokor diisi sirih dan perlengkapan seupaheun, sebagai simbol pengikat rasa, tradisi, dan doa. Semua menjadi saksi kebersamaan yang tak lapuk dimakan waktu jelajah.tv.com.

Acara peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW dan Panjang Jimat di Desa Pamulihan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, Jumat (5/9/2025)
H. Toni Kusumanto, menyampaikan pesan penuh hikmah: “Cintailah desa, cintailah negeri, mari kita bangun kebersamaan dengan gotong royong. Dari Pamulihan, kita songsong Kuningan yang melesat, berdaya, dan lestari.”
Kepala Desa Pamulihan, H. Darwin Suparja menyampaikan rasa syukurnya. “Panjang Jimat bukan sekadar ritual, melainkan pesan leluhur agar kita terus merawat persatuan, gotong royong, dan kebersamaan. Inilah warisan yang harus dijaga, agar kehidupan tetap penuh makna.”
“Malam ini, Desa Pamulihan menjadi ruang suci. Antara iman dan budaya, antara sejarah dan masa kini. Sebuah simpul cinta yang mengikat masyarakat dalam satu suara: bersatu dalam keberkahan, lestari dalam tradisi.” Ungkap dia. (Tan)**
