Jakarta, MI.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, bagi masyarakat awam, indikator ekonomi yang paling terasa bukanlah angka pertumbuhan atau istilah teknis makroekonomi. Melainkan kondisi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti dagangan laku, pasar ramai, dan kebutuhan pokok mudah dijangkau.
“Itu kira-kira belanja gampang kira-kira dan gaji enggak naik pun masih cukup untuk belanja,” ujar Purbaya dalam acara KompasTV “Bisnis Economic Outlook 2026” dengan tema “Nyalakan Mesin Pertumbuhan Baru” di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Baca juga:
- Puncak El Nino Diprediksi Agustus 2026, Kementan Siapkan Strategi
- Jumlah Kelas Menengah RI Turun, Minimnya Ketersediaan Lapangan Pekerjaan
- Ditahan Imbang Persibangga 1-1, Pesik Lolos ke 16 Besar Liga 4 Piala Presiden
- AS-Iran Capai Kesepakatan Buka Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Anjlok
Menurut Purbaya, masyarakat tidak terlalu mempersoalkan seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi selama aktivitas ekonomi kembali bergerak dan lapangan kerja tersedia. Bahkan, Purbaya mencontohkan, ketika toko kembali ramai, pasar hidup, dan mencari pekerjaan terasa lebih mudah, optimisme publik akan tumbuh dengan sendirinya.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di 2026 yang berada di kisaran 5,4 persen saja sudah lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya.
Purbaya menekankan pentingnya kemudahan mencari kerja dan mulai pulihnya aktivitas perdagangan. Ia menilai tanda-tanda pergerakan ekonomi itu sudah mulai terlihat pada kuartal terakhir tahun ini dan diperkirakan berlanjut bahkan membaik pada tahun depan.
Selain itu, stabilitas harga menjadi faktor penting yang langsung dirasakan masyarakat. Dengan inflasi inti di sekitar 2,5 persen, harga kebutuhan pokok seperti ayam, beras, dan daging relatif terkendali. Kondisi tersebut membuat belanja rumah tangga terasa lebih ringan. (kompas.com)*
