Jalaksana, MI.com — Simpul Rasa Bumi Seni adalah ruang hidup kebudayaan yang tumbuh dari pertemuan antara manusia, alam, dan kesadaran rasa. Berakar di kawasan hutan Bumi Seni Tarikolot, di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan.
Program ini dihadirkan sebagai kegiatan reguler yang menghidupkan praktik seni pertunjukan lintas disiplin, sekaligus membuka ruang pengalaman yang lebih dalam dari sekadar tontonan.
Sebagai kegiatan berkala, kata Yusup Oeblet Pupuhu Padepokan Bumi Seni Tarikolot, Simpul Rasa menjadi titik temu para seniman, pelaku budaya, dan masyarakat untuk berbagi, berproses, dan mengekspresikan karya dalam lanskap alam yang hidup.
“Hutan tidak hanya menjadi latar, tetapi bagian dari pengalaman artistik—menghadirkan suasana, bunyi, dan energi yang membentuk peristiwa seni itu sendiri, tutur Oeblet selepas acara workshop, Minggu 5 April 2026.
Baca juga :
- Kades Dukuhmaja Berharap YMI Kuningan Lahirkan Generasi Muda Kuat Ilmu Agamanya
- Workshop Seni Budaya: Merajut Simpul Rasa di Lereng Gunung Ciremai
- Tim Urais Kemenag RI Evaluasi Program BRUS KUA Cilimus
- Nikah di KUA Kini Makin Diminati Calon Pengantin
Simpul Rasa Bumi Seni juga menghadirkan program residensi sebagai ruang tinggal dan berkarya bagi seniman lintas latar. Dalam proses ini, para partisipan tidak hanya mencipta, tetapi juga menyelami, berdialog, dan membangun relasi dengan lingkungan, masyarakat, serta nilai-nilai budaya yang hidup di sekitarnya.
Di dalamnya, terdapat pula ruang untuk healing batin—sebuah upaya kembali pada kepekaan diri melalui interaksi dengan alam dan praktik seni. Hutan menjadi medium pemulihan, di mana keheningan, suara alami, dan pengalaman kolektif membuka ruang refleksi dan kesadaran yang lebih dalam, ujar Musisi yang sarat pengalaman mancanegara ini.
Melalui berbagai kegiatan olah rasa berbasis metode praktik seni budaya—seperti musik, gerak, tutur, hingga eksplorasi lintas medium—Simpul Rasa Bumi Seni membangun pendekatan yang tidak hanya estetis, tetapi juga reflektif dan transformatif. Seni menjadi jalan untuk memahami diri, menghubungkan kembali dengan sesama, dan merasakan keterikatan dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Simpul Rasa Bumi Seni bukan sekadar program, melainkan sebuah proses berkelanjutan—ruang di mana rasa dirawat, dipertemukan, dan dihidupkan kembali dalam pengalaman bersama. (H Wawan Jr)
