Jakarta, MI.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 100 jiwa hingga Senin (24/8/2026).
Jumlah korban meninggal dunia tersebut bertambah sembilan jiwa dibandingkan data sehari sebelumnya, pada Minggu (23/8/2026). “Per hari ini yang meninggal dunia ada 100 ya, kemudian luka-luka 1.603 jiwa, mengungsi 180.327 jiwa,” ujar Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, dalam konferensi pers secara daring, Senin (24/8).
Suharyanto mengatakan, korban meninggal dunia semula merupakan pasien luka-luka yang sempat mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan atau rumah sakit darurat.
Baca juga:
- UPDATE Gempa NTT: Jumlah Korban Tewas 100 Orang, yang Terluka 1.603
- Sudah 30 ODGJ Ditangani oleh Dinsos Kuningan Sejak Januari 2026
- Milangkala ke 43 Desa Randusari Dimeriahkan Pagelaran Wayang Golek Putra Giri Harja 3
- 65 Stand Unggulan Tampil di Expo KKN 2026
“Perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat gitu ya, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan,” ujar dia.
Oleh sebab itu, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah sejak hari pertama gempa mengguncang NTT, pada Sabtu 15 Agustus 2026 lalu.
“Yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia,” ucap dia.
Dari sisi fasilitas, data sementara rumah rusak ada 73.818 unit, terbagi dalam rusak berat 23.276 unit, rusak ringan 17.563 unit, dan rusak ringan 32.979 unit.
Sampai dengan hari ini atau hari kedelapan setelah gempa pertama, kata Suharyanto, BMKG melaporkan terjadi 6.409 kali gempa susulan di Flores.
“Ini mengakibatkan sampai hari kedelapan terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut sehingga tetap mengungsi di luar rumah meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,” imbuh dia.
Suharyanto menyebut, kondisi gempa susulan ini akan berlangsung sampai tiga atau empat minggu ke depan di mana menurut penjelasan BMKG kondisinya akan lebih stabil. (Kompas.com)*
