Kuningan, MI.com — Pementasan drama “Sesal Somantri” Teater Pecut Universitas Kuningan (Uniku) di Gedung Kesenian Raksa Wacana Jalan Veteran Kuningan, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Mayoritas yang datang dari kalangan pelajar, hingga tembus 7.601 penonton.
Berkolaborasi dengan Pusaka Aria Kamuning 3 (PSK 3) itu, digelar selama dua pekan, 21 September – 4 Oktober 2026. karena banyaknya penonoton, pentas diperpanjang hingga 10 – 11 Oktober 2026.
Capaian jumlah penonton tersebut kata Sang Sutradara Arif Hidayat, menjadi salah satu catatan penting penyelenggaraan pementasan, sekaligus menunjukkan jangkauan pertunjukan seni yang mengangkat kisah pewayangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, terangnya seusai pementasan.
Baca juga :
- Pentas Drama Sesal Somantri Kisah Pewayangan: Penonton Kawula Muda Tembus 7.601
- Biaya Haji 2027 Rp 98 Juta, Jemaah Bayar Rp 54,6 Juta
- Ini 8 Poin Penting di UU Ketenagakerjaan yang Baru
- MK Tidak Menemukan Bukti Gibran Memiliki Ijazah SLTA atau Sederajat
Drama Sesal Somantri mengisahkan perjalanan Bambang Somantri, seorang ksatria yang berambisi menjadi mahapatih sekaligus mempersunting Dewi Citrawati. Dalam perjalanan meraih cita-citanya, ia selalu didampingi Sokrasana, adiknya yang setia membantu dan mendukungnya.
Konflik cerita bermula ketika Bambang Somantri harus memenuhi syarat dari Arjuna dengan mengikuti sayembara untuk memenangkan Dewi Citrawati bagi sang raja.
Berbekal keberanian dan kesaktiannya, Bambang Somantri berhasil mengalahkan enam belas raja. Namun, keberhasilan tersebut justru membawanya pada pergulatan batin ketika ia jatuh cinta kepada Dewi Citrawati dan tidak rela menyerahkannya kepada Arjuna. Pertentangan itu berujung pada pertarungan yang membuat Bambang Somantri mengalami kekalahan.

Pentas Drama “Sesal Somantri” teater Pecut Uniku di Gedung Kesenian Kuningan, disambut ribuan penonton kawula muda, 21 – 11 Oktober 2026
Kesempatan kedua untuk meraih kedudukan sebagai mahapatih datang melalui tugas memindahkan Taman Sriwedari dari gunung ke alun-alun Maespati. Dengan bantuan Sokrasana yang memiliki kesaktian luar biasa, tugas tersebut berhasil diselesaikan.
Akan tetapi, keberhasilan itu berubah menjadi tragedi ketika Bambang Somantri merasa malu memperlihatkan adiknya di hadapan Arjuna karena rupa Sokrasana. Dalam kepanikan dan luapan emosi, Panah Cakra Baswara yang dipegangnya terlepas dan mengenai Sokrasana.
Peristiwa tersebut menjadi penyesalan terbesar bagi Bambang Somantri. Sosok yang selama ini setia mendampingi dan membantunya justru menjadi korban dari tindakan yang tidak terkendali. Melalui kisah ini, Sesal Somantri menghadirkan refleksi mengenai ambisi, kesetiaan, pengorbanan, serta akibat dari keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan nilai kemanusiaan.
Kehadiran mayoritas penonton dari kalangan pelajar, kata Arif Hidayat, menjadi bagian menarik dari capaian pementasan ini. Pertunjukan drama tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan kisah pewayangan dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda melalui pengalaman menonton secara langsung papar dia.
Melalui kolaborasi Teater Pecut Universitas Kuningan dan Pusaka Aria Kamuning 3, pementasan Sesal Somantri menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya seni pertunjukan yang menjembatani tradisi dan kehidupan masyarakat masa kini. (H Wawan Jr)











Leave a Reply