Jalaksana, MI.com — Sebelumnya Tradisi Kawin Cai hanya menjadi warisan budaya leluhur, kini memiliki potensi besar sebagai model konservasi sumber mata air. Pemerintah Kabupaten Kuningan mendorong kearifan lokal tersebut dikembangkan melalui pendekatan riset dan teknologi guna memperkuat ketahanan air.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., saat menghadiri kegiatan Pengembangan Model Living Lab Tirta Pawitan :Living Lab Sumber Mata Air, dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air di Kabupaten Kuningan, Sabtu (31/10/2026), di Aula Balai Desa Babakanmulya, Kecamatan Jalaksana.
Wabup Tuti menyampaikan apresiasi kepada masyarakatm, para sesepuh, pemerintah desa, serta para penjaga mata air yang selama ini konsisten melestarikan tradisi Kawin Cai.
Menurut Tuti, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan mengandung nilai-nilai kearifan lokal tentang pentingnya menjaga alam dan melindungi sumber kehidupan.
Baca juga :
- Kepengurusan PWI Kuningan Akan Segera Berakhir, Siapa Ketua Selanjutnya?
- Kawin Cai Dikembangkan Jadi Model Konservasi Mata Air
- Dukung Program Simpel, Pemkab Kuningan Raih Penghargaan OJK
- Diduga Korupsi DD Rp530 Juta Kades Paniis Ras Diancam 20 Tahun Penjara
“Tradisi Kawin Cai harus terus kita rawat dan lestarikan. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan, serta melindungi sumber mata air,” ujarnya.
Pengembangan Living Lab Tirta Pawitan, kata Tuti menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kegiatan melibatkan Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), dan Yayasan Kibar Budaya Nusantara tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan inovasi konservasi mata air berbasis budaya dan penelitian.

Prosesi Tradisi Kawin Cai di Obyek Wisata Balong Dalem, Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Kamis (29/10/2026)
Ia berharap, hasil riset yang dilakukan tidak berhenti pada kajian akademik, tetapi dapat diimplementasikan secara langsung dalam menjaga ketersediaan air bersih sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai penjaga mata air.
“Menjaga dan merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama. Perhatian dari sisi akademik dan riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan,” kata dia.
Kegiatan diisi pula dengan forum diskusi kelompok (FGD) serta pelatihan menjaga dan merawat sumber mata air. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi lingkungan.
Kegiatan dihadiri oleh Ade Kadarisman dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Kepala Bappeda, Kepala DPMD, perwakilan Dinas PUTR, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, Sekretaris Badan Kesbangpol, Camat Jalaksana, serta para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana.
Melalui pengembangan Living Lab Tirta Pawitan, Pemkab Kuningan berharap tradisi Kawin Cai dapat terus hidup dan berkembang, tidak hanya sebagai identitas budaya masyarakat, tetapi juga menjadi gerakan nyata dalam menjaga kelestarian sumber mata air dan memperkuat ketahanan air bagi generasi sekarangmaupun mendatang. (Tan)











Leave a Reply