JAKARTA, MI.com — Nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Bahkan rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dollar AS. Berdasarkan data Investing, rupiah pada pukul 06.45 WIB sempat mencapai level terlemah Rp 18.015 per dollar AS atau melemah sekitar 90 poin dari penutupan sebelumnya Rp 17.925.
Sementara berdasarkan data Google Finance, rupiah sempat tembus Rp 18.022 per dollar AS malam tadi. Pelemahan ini menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu rupiah kini perlahan kembali turun ke level Rp 17.900 per dollar AS.
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (3/6/2026) rupiah, dilansir dari kompas.com, ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS. Rupiah melemah hingga 127,5 poin atau 0,71 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra sempat memperkirakan, rupiah bakal tembus Rp 18.000 per dollar AS pada perdagangan pekan ini. Sebab, pergerakan rupiah bergantung pada perkembangan geopolitik global sehingga selama kondisi di Timur Tengah masih bergejolak, rupiah masih berpotensi bergerak melemah.
Baca juga:
- Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
- Ritual Damar Sewu Awali Tradisi Adat Seren Taun di Cigugur
- PWI dan IPB Sepakat Siapkan Program Beasiswa S2 bagi Wartawan Indonesia
- Pakar IPB University: Dampak El Niño Berpotensi Tingkatkan Konflik Manusia dan Satwa
“Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (Pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres,” kata Ariston kepada Kompas.com, Rabu.
Dia menjelaskan, tekanan utama terhadap rupiah berasal dari belum meredanya konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Kondisi tersebut membuat investor global tetap memburu dollar AS sebagai aset aman (safe haven) sehingga nilai tukar dollar AS meningkat.
“Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven,” ungkapnya.
Selain memperkuat dollar AS, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Menurut Ariston, kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena Indonesia masih membutuhkan impor energi yang dibayar menggunakan dollar AS.
Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barrel.
“Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia,” ucapnya. (net)*
