Penulis: Addin Nugraha Siwi
Jakarta, MI.com — Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat sepanjang 2026. Namun, di tengah berbagai stimulus tersebut, muncul pertanyaan: benarkah kelas menengah Indonesia sedang menghadapi tekanan daya beli?
Pertanyaan ini menarik karena sejumlah indikator ekonomi makro masih menunjukkan kondisi yang relatif positif.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan, meski melambat dari 5,61% pada kuartal I 2026. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06% dan menyumbang sekitar 53% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Artinya, masyarakat masih berbelanja. Namun, pertumbuhan konsumsi nasional tidak otomatis berarti seluruh kelompok masyarakat mengalami peningkatan daya beli.
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan konsumsi nasional masih banyak ditopang kelompok masyarakat dengan pendapatan dan tabungan yang relatif kuat.
Baca juga :
- Bos Narkoba Kampung Bahari Dijerat TPPU, Uang Miliaran dan Aset Rp 39 M Disita
- Daya Beli Tertekan (1): Benarkah Kelas Menengah Indonesia Hidup Makin Sulit?
- Terpilih Pimpin PWI Jabar, Tantan Sulthon Serukan Persatuan Wartawan
- Pemadaman Kebakaran TPSA Ciniru Dilakukan oleh Tim Gabungan
“Secara kelompok masyarakat, kalau menurut aku sih ini lebih banyak memang ditopang oleh menengah ke atas,” kata Eko kepada Beritasatu.com.
Menurut Eko, kelompok dengan tabungan kuat memiliki bantalan ketika terjadi tekanan ekonomi. Sebaliknya, masyarakat dengan pendapatan rendah dan tabungan tipis lebih cepat merasakan dampaknya.
“Ketika ada tekanan ekonomi, ya yang pertama kali terdampak adalah yang tabungannya tipis atau bahkan tidak punya tabungan,” ujarnya.
Tekanan tersebut juga tidak selalu terlihat dari berhentinya konsumsi. Masyarakat masih bisa minum kopi, makan di luar, atau berekreasi, tetapi pilihan produknya berubah.
Kopi premium bisa diganti dengan produk yang lebih murah, sementara rekreasi tetap dilakukan dengan anggaran lebih kecil. “Secara income karena income mereka terganggu ya mereka akhirnya menyesuaikan,” jelas Eko.
Dengan demikian, konsumsi tetap berjalan, tetapi kualitas dan komposisinya dapat berubah.
Kelas Menengah Menyusut
Tekanan terhadap kelas menengah juga tercermin dari data BPS. Proporsi kelas menengah turun dari 21,45% pada 2019 menjadi 17,13% pada 2024. Jumlahnya menyusut sekitar 9,48 juta orang, dari 57,33 juta menjadi 47,85 juta orang.
Data tersebut tidak berarti seluruh masyarakat yang keluar dari kelompok kelas menengah otomatis menjadi miskin. Namun, penyusutan tersebut menunjukkan adanya perubahan struktur ekonomi yang perlu diperhatikan.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan struktur konsumsi juga perlu dilihat secara lebih detail.
Sekitar 45% konsumsi rumah tangga berasal dari 20% masyarakat dengan pendapatan tertinggi. “Secara agregat memang bisa tumbuh 5 persen,” kata Faisal.
Artinya, konsumsi nasional masih dapat tumbuh meskipun sebagian kelompok masyarakat mulai mengurangi belanja.
Gaji Naik, Belum Tentu Lebih Sejahtera
Perencana Keuangan Mike Rini mengatakan kenaikan pendapatan secara nominal belum tentu meningkatkan kemampuan membeli barang dan jasa. “Secara nominal pendapatan memang meningkat, tetapi kemampuan untuk membeli barang dan jasa belum tentu ikut meningkat,” jelasnya.
Persoalan paling terasa ketika biaya kebutuhan dasar ikut meningkat. Makanan, tempat tinggal, listrik, transportasi, pendidikan, dan kesehatan merupakan pengeluaran yang sulit dikurangi secara drastis.
Bagi pekerja dengan pendapatan sedikit di atas UMR, misalnya sekitar Rp 7 juta per bulan, tekanan mungkin lebih terlihat pada pengeluaran sekunder atau gaya hidup. Namun, bagi pekerja yang berada di sekitar level UMR, ruang untuk berhemat jauh lebih terbatas.
“Mereka sering kali harus melakukan trade-off atau pengorbanan untuk menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan. Yang dikorbankan bahkan bisa menyentuh kualitas hidup,” ujar Mike.
Dalam kondisi tertentu, penghematan tidak lagi sekadar mengurangi makan di luar atau menunda liburan. Keluarga bisa mulai mengurangi kualitas makanan, menunda pendidikan tambahan, mengurangi pemeriksaan kesehatan, bahkan berhenti menabung.
Karena itu, keluhan bahwa gaji terasa tidak cukup tidak selalu dapat dianggap sebagai persoalan gaya hidup.
“Untuk kelompok pekerja berpendapatan rendah, tekanan tersebut bisa benar-benar menunjukkan adanya penurunan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar,” tukas Mike.
Stimulus Menjaga Daya Beli
Pemerintah sendiri telah berupaya menjaga daya beli sepanjang 2026. Menjelang Idulfitri, pemerintah menyiapkan stimulus fiskal lebih dari Rp 12,8 triliun, bantuan sosial Rp 11,92 triliun untuk 5,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM), serta insentif transportasi senilai Rp 911,16 miliar.
Pemerintah juga memberikan sejumlah diskon transportasi pada periode libur sekolah. Kebijakan tersebut membantu menjaga konsumsi dalam jangka pendek. Namun, persoalan daya beli tidak semata-mata dapat diselesaikan melalui stimulus.
Daya beli yang lebih kuat membutuhkan pertumbuhan pendapatan riil, pekerjaan produktif, serta biaya kebutuhan dasar yang tidak meningkat jauh lebih cepat daripada pendapatan.
Oleh karena itu, pertanyaan mengenai daya beli seharusnya tidak berhenti pada apakah masyarakat masih berbelanja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang harus dikorbankan agar masyarakat tetap mampu berbelanja?
Seseorang tidak harus kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan gaji untuk merasakan penurunan kesejahteraan. Ketika pendapatan naik tetapi kemampuan membeli barang dan jasa tidak bertambah, tekanan ekonomi tetap terjadi.
Inilah paradoks ekonomi Indonesia saat ini. Ekonomi masih tumbuh. Konsumsi masih tumbuh. Namun, bagi sebagian masyarakat, ruang untuk mempertahankan kualitas hidup justru semakin sempit.
Lalu, jika gaji terus naik secara nominal, mengapa uang terasa semakin cepat habis? Benarkah persoalannya hanya gaya hidup, atau kenaikan pendapatan memang belum mampu mengejar biaya hidup?
Sumber: Beritasatu.com
