Kuningan, MI.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Senin (7/9/2026). Kebakaran dilaporkan mulai terlihat sekitar pukul 12.00 WIB di Blok Cileutik, Blok Mangun Tapa dan Blok Cimaung Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan.
Kronologis kejadian, terang Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu Permana, Senin (7/9) siang, kepulan asap tebal pertama kali terlihat oleh warga dari area lereng bukit Blok Cileutik. Kondisi cuaca yang panas disertai tiupan angin menyebabkan api dengan cepat merambat dan membakar vegetasi kering dan senok keling di sekitar lokasi.
Api kemudian meluas hingga ke Blok Manguntapa, dan Blok Cimaung Desa Singkup. Hingga laporan diterima pada Selasa (8/9) malam, petugas dan unsur terkait masih melakukan upaya pemadaman serta pelokalisiran titik api.
Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 5 hektare. Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Dampak yang ditimbulkan sejauh ini berupa kerusakan pada ekosistem hutan di kawasan terdampak.
Baca juga :
- Kuningan Kebut Program 3 Juta Rumah: Prioritas ASN Golongan Rendah dan MBR
- Karhutla Melanda Kawasan TNGC di Pasawahan Seluas 5 Hektare
- Di Arab Saudi dan Qatar Tidak Ada Perayaaan Maulid Nabi
- KDM Janjikan Guyur Kuningan Rp100 Miliar, Tapi Ada Syaratnya
Upaya penanganan, dilakukan secara bersama-sama oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) TNGC, BPBD Kabupaten Kuningan, unsur Kecamatan, Pemerintah Desa, TNI/Polri, Yonif TP 839/SP serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning.
Petugas bersama relawan MPA kemudian melakukan pemadaman secara manual menggunakan metode gepyok, jet shooter, dan alat pemadam mobil. Selain itu, petugas membuat sekat bakar untuk menghambat dan melokalisasi penyebaran api agar tidak semakin meluas.
Pada pukul 18.10 WIB, tim bergerak menuju Tower Singkup untuk mendekati titik penyebaran api. Pemantauan dan penanganan terhadap titik api masih dilakukan hingga laporan ini dibuat.
Dalam penanganan karhutla tersebut, tim membutuhkan sejumlah dukungan tambahan, terutama masker pelindung pernapasan bagi relawan MPA, alat pemadam api portabel (jet shooter) untuk menjangkau area yang tidak dapat diakses kendaraan pemadam, serta tambahan logistik berupa uangmakanan dan air minum. (Tan)*










Leave a Reply