Oleh: Yusup Dandi Asih

Kuningan, MI.com  — Setiap bulan Juni kita ramai mengutip Bung Karno. Kita menggelar seminar, mengadakan upacara, memasang foto, bahkan menghafal pidato-pidatonya. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah negara ini masih berjalan di jalan yang pernah ditunjukkan Bung Karno?

Jawabannya semakin sulit untuk dikatakan “ya”.

Bung Karno tidak memperjuangkan kemerdekaan agar Indonesia menjadi bangsa yang bergantung kepada kekuatan ekonomi luar, tidak berdaya menjaga kekayaan alamnya sendiri, dan membiarkan rakyatnya bergelut dengan kemiskinan di tengah negeri yang kaya raya. Ia memperjuangkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Hari ini, justru tiga pilar itu sedang menghadapi ujian yang berat.

Kemiskinan memang dapat diperdebatkan melalui statistik. Namun rakyat tidak hidup dari angka. Rakyat hidup dari harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, rendahnya daya beli, dan semakin sempitnya kesempatan memperoleh kehidupan yang layak. Ketika pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan oleh sebagian kecil kelompok, sementara kesenjangan semakin lebar, maka ada sesuatu yang salah dalam arah pembangunan bangsa.

Baca juga :

Yang lebih mengkhawatirkan adalah persoalan kedaulatan.

Bung Karno selalu menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang kehilangan kendali atas masa depannya sendiri. Kedaulatan bukan sekadar menjaga batas wilayah dari ancaman militer, tetapi juga memastikan bahwa sumber daya alam, pangan, energi, air, teknologi, hingga kebijakan strategis nasional benar-benar ditentukan berdasarkan kepentingan rakyat Indonesia.

Negara yang kaya tetapi kehilangan kendali atas aset strategisnya sesungguhnya sedang kehilangan sebagian kedaulatannya.

Di sisi lain, nasionalisme perlahan mengalami pengikisan. Cinta tanah air semakin sering berhenti pada seremoni. Lagu kebangsaan dinyanyikan, tetapi kepentingan bangsa dikalahkan oleh kepentingan kelompok. Pancasila dihafalkan, tetapi praktik korupsi tetap berlangsung. Merah Putih dikibarkan, tetapi keadilan sosial masih terasa jauh bagi sebagian rakyat.

Bung Karno pernah mengingatkan bahwa perjuangan setelah kemerdekaan jauh lebih berat dibanding merebut kemerdekaan itu sendiri. Musuh bangsa bukan hanya yang datang membawa senjata, melainkan juga kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketergantungan ekonomi, serta lunturnya rasa memiliki terhadap Indonesia.

Ironisnya, bangsa ini terkadang lebih sibuk memperdebatkan simbol daripada membangun substansi. Lebih ramai membela kepentingan politik daripada memperjuangkan kepentingan nasional. Padahal ketahanan bangsa tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui keberanian mengambil kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ketahanan nasional hanya akan kokoh apabila rakyat hidup sejahtera. Tidak ada negara yang kuat apabila petaninya miskin, nelayannya terpinggirkan, buruhnya tidak terlindungi, pemudanya kehilangan pekerjaan, dan generasi mudanya kehilangan kebanggaan terhadap bangsanya sendiri.

Berdikari yang diajarkan Bung Karno bukanlah romantisme sejarah. Ia adalah strategi bertahan hidup sebuah bangsa. Indonesia harus mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri, memperkuat industri nasional, menjaga ketahanan pangan dan energi, mengelola sumber daya alam secara adil, serta memastikan hasil pembangunan benar-benar kembali kepada rakyat.

Sudah saatnya kita berhenti menjadikan Bung Karno sekadar ikon sejarah. Yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan hanya mengutip pidatonya, melainkan menjalankan gagasannya. Sebab bangsa ini tidak kekurangan slogan. Yang mulai langka adalah keberanian untuk berpihak kepada kepentingan nasional di atas segala kepentingan lainnya.

Jika kemiskinan terus meningkat, jika kedaulatan terus melemah, dan jika nasionalisme…

Penulis : Wakil Ketua Bidang Politik PA GMNI

Diclaimer: Tulisan ini murni dari Yusup Dandie Asih. Mediaidentitas.com tidak bertanggungjawab atas isi artikel ini. Terima kasih.

By mediaidentitas0@gmail.com

T. Sukartanu, SH. Wartawan Madya dari Dewan Pers Nomor: 8258-PWI/WDya/DP/X/2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *