Jakarta, MI.com — Belakangan ini, istilah pesugihan Gunung Kawi kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Gunung Kawi sendiri sejak lama dikenal dalam berbagai cerita masyarakat sebagai salah satu tempat yang dikaitkan dengan praktik mencari kekayaan melalui jalan spiritual atau ritual tertentu.
Fenomena tersebut kembali memunculkan pertanyaan, apakah benar seseorang bisa memperoleh kekayaan secara instan melalui pesugihan? Atau justru ada cara lain yang diajarkan dalam Islam untuk memperoleh rezeki yang berkah tanpa harus menempuh jalan yang bertentangan dengan ajaran agama?
Pendakwah Buya Yahya pernah memberikan penjelasan mengenai istilah yang ia sebut sebagai “pesugihan putih”. Namun, makna pesugihan putih yang dimaksud bukanlah ritual gaib, melainkan cara memperoleh rezeki melalui usaha yang halal, kejujuran, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Baca Juga :
- Pemkab Kuningan dan BAZNAS RI Sepakat Tingkatan Tata Kelola Zakat
- Ketika Indonesia Menjauh dari Jalan Bung Karno
- Riset 5 Mahasiswa UB soal Pesugihan Bikin Pengelola Gunung Kawi Keberatan
- Ramai soal Gunung Kawi, Buya Yahya Ungkap ‘Pesugihan Putih’ yang Tak Perlu Ritual Mistis
Dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjawab pertanyaan dari jamaah yang menanyakan mengenai praktik pesugihan putih yang disebut-sebut dilakukan oleh seorang kiai. Alih-alih membenarkan praktik tersebut, Buya Yahya justru memberikan penjelasan sederhana mengenai makna sebenarnya.
“Ada pesugihan putih itu ada. Jujur dalam berdagang, modalnya halal, minta kepada Allah dan senang berderma. Itu ilmu pesugihan putih saya punya kalau gitu. Saya punya ilmu pesugihan putih,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Kamis, 9 Juli 2026.
Menurut Buya Yahya, keinginan menjadi orang kaya bukanlah sesuatu yang salah selama disertai niat yang baik. Bahkan, seseorang boleh memiliki cita-cita menjadi kaya agar dapat membantu lebih banyak orang. Ia mencontohkan seseorang yang terinspirasi melihat orang lain rajin bersedekah. Keinginan untuk menjadi kaya agar bisa melakukan hal serupa justru dinilai sebagai niat yang baik.
“Kalau Anda lihat orang kaya bersedekah lalu dia rindu, ‘Saya pengen kayak dia.’ Dia kerja, sudah dapat pahalanya,” ujarnya lagi.
Namun, keinginan tersebut harus diwujudkan melalui usaha yang benar, bukan dengan mengandalkan praktik-praktik yang menjanjikan kekayaan secara instan. Dalam penjelasannya, Buya Yahya menegaskan bahwa rezeki yang baik diperoleh melalui pekerjaan yang halal serta disertai ibadah dan doa.
Ia bahkan membagikan amalan sederhana yang menurutnya bisa menjadi jalan memperoleh keberkahan rezeki. Baca Juga img_title Jordi Onsu Spill Fakta Baru Soal Pesugihan Gunung Kawi yang Libatkan Sarwendah “Saya kasih pesugihan putih. Anda niat bekerja dengan benar, waktu salat, salat, modal halal, kerja yang benar. Kalau sukses saya akan bantu fakir miskin, bangun masjid dan sebagainya. Terus malam tahajud, ‘Ya Allah berikan aku rezeki yang lapang,” lanjut Buya menjelaskan.
Buya juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukan semata-mata jumlah harta yang dimiliki. Yang lebih penting adalah sejauh mana kekayaan tersebut membawa manfaat bagi orang lain.

Lokasi yang diduga sebagai tempat pesugihan di Gunung Kawi (detik.com)
Ia mencontohkan kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat dermawan hingga sebagian besar hartanya segera disalurkan untuk membantu sesama. “Lihat harta yang bermanfaat bagi banyak orang, bersedekah sampai sedekah itu tidak kira-kira,” jelasnya lagi.
Di tengah maraknya berbagai cerita mengenai pesugihan, Buya Yahya mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergoda dengan praktik-praktik yang dikaitkan dengan hal mistis. Ia menilai Islam telah memberikan jalan yang sederhana dalam mencari rezeki, yaitu bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dan tetap bertawakal kepada Allah.
“Nggak usah aneh-aneh dan macam-macam. Pesugihan kera putih, Nyi Blorong, sebenarnya pesugihan putih itu sederhana. Kalau pengen dapat rezeki ya kerja cara yang benar, nanti Allah buka rezekinya,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa jika seseorang belum juga menjadi kaya di dunia, niat baik yang dimiliki tetap bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
“Kalau tidak di dunia diberi sukses, di akhirat. Islam itu sederhana, gampang,” tandasnya. . Ramainya pembahasan mengenai pesugihan Gunung Kawi kembali mengingatkan masyarakat bahwa persoalan rezeki selalu menjadi perhatian banyak orang.
Namun, menurut pandangan Buya Yahya, jalan terbaik untuk memperoleh kekayaan bukanlah melalui ritual yang belum jelas kebenarannya, melainkan dengan memperbaiki ikhtiar, menjaga kejujuran dalam bekerja, memperbanyak doa, dan membiasakan diri berbagi kepada sesama. (viva.co.id)**
